Hari ini saya mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati HUT ke-63 Republik Indonesia. Ada dua hal menarik yang saya rasakan, satu, karena ini upacara bendera bendera pertama yang saya ikuti dalam kurun waktu 11 tahun. Terakhir saya mengikuti upacara ini tahun 1997, itu juga karena diwajibkan sebagai bagian dari proses penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi yang saya masuki pada saat itu. Dua, karena ada hal yang sedikit konyol dibalik motivasi saya mengikuti upacara ini: Kaul.
Huh, kaulnya kok ikut upacara?
Berawal dari kejadian tanggal 4 Agustus 2008, saya bersama tiga orang teman baik saya, Hendi, Loli dan Dani habis jalan-jalan dan makan di Kemang. Hari itu adalah hari terakhir saya menjalani cuti, dan beberapa jam setelahnya saya harus sudah naik pesawat kembali ke tempat saya kerja nun jauh di Papua. Pulang sekitar jam 00.30 dari Kemang Food Festival, dengan pertimbangan arah pulang, saya pulang bersama Loli dan Dani, sedangkan Hendi pulang sendirian ke rumahnya di Cinere.
Kita pakai mobilnya Loli, saya nyetir, dan tujuan pertama kami adalah rumah kos adiknya Dani di daerah Pancoran. Loli yang jadi guide, saya sendiri pernah dua tahun menetap di Jakarta, tapi karena sudah empat tahun terakhir tinggal di Papua, sudah tidak terlalu ingat lagi jalan-jalan di Jakarta, Dani? tidak perlu berharap terlalu banyak, teman kami yang satu ini cukup duduk di belakang dan memberitahu alamatnya, kami mengerti ketidaktahuannya akan ibukota
. Tapi apa yang kemudian terjadi? Kami berputar-putar di daerah Kuningan, Mampang, Kalibata, dan Pancoran. Lokasi yang kami tuju sebenarnya cukup strategis, karena berada di depan sebuah hotel yang cukup besar, tapi entah bagaimana, guide kami tidak berhasil mengantarkan kami ke lokasi yang kami tuju, hahaha. Kami berputar-putar di area tersebut selama lebih dari satu jam. Tapi saya mendapatkan pengalaman baru, karena untuk pertama kalinya bisa melihat Taman Makam Pahlawan Kalibata! Kesan pertama saya, “Wah, kelihatannya bagus dan besar ya komplek Taman Makam ini.”. Setelah itu, kami berputar-putar lagi mencari lokasi kos adik dari teman kami tersebut. Karena Loli tidak begitu kenal daerahnya, beberapa menit kemudian kami melewati lagi Taman Makam Pahlawan ini, “Hmm, tempat pemakaman yang satu ini tidak terlalu angker kalau malam-malam”, gumam saya. Lalu, beberapa waktu kemudian, kami lewati lagi tempat yang sama -tiga kali dalam semalam, hattrick!!-.
Ngga pernah mimpi, jauh-jauh datang dari Bandung ke Jakarta, cuma untuk muter-muter di Taman Makam Pahlawan, dini hari pula.
Kita mulai bingung dan dengan bercanda saya menawarkan, bagaimana kalau saya langsung ke Bandara saja karena waktu sudah menunjukkan hampir jam 02.00 WIB
, bisa ditebak, kedua cewek cantik ini protes……hehe.
Akhirnya kita coba tanya orang, setelah ditimbang-timbang, akhirnya kita bertanya pada mas-mas warung tegal yang udah mau tutup, setelah ditunjukkan, kami mengerti dan, halah, untuk masuk ke lokasi kos tersebut kita harus memutar sedikit ke Kalibata, and you know what?? Mau tidak mau ternyata kita harus melewati lagi…….Yess…..Taman Makam Pahlawan Kalibata kita tercinta. Dalam melewati tempat ini untuk keempat kalinya, dan karena bulan itu adalah bulan Agustus, kami bertiga berikrar bahwa dalam peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tahun ini, kami akan mengikuti upacara….Ikrar yang aneh, haha. Akhir cerita, kami akhirnya berhasil mengantarkan Dani ke kos-an adiknya dengan selamat, total waktu dari Kemang ke Pancoran : 1,5 jam, dari informasi yang kami dapatkan, kalau perjalanan normal, minus nyasar, seharusnya 10 menit pun sampai, hmmm…..speechless.
Anyway, ikrar tersebut tetap saya ingat dan pegang, and, here I am, today, mengikuti upacara.
Sedikit balik ke upacara, saya cukup menikmati upacara pagi ini, selain karena “motivasi” saya cukup tinggi, juga karena saya mendapati hal-hal yang tidak pernah saya notifikasi sebelumnya dalam sejarah saya mengikuti upacara peringatan HUT RI:
- Naskah proklamasi kita itu ternyata sangat singkat, berisi dan padat makna. Saya jadi bingung, Bangsa Indonesia lahir dengan diawali pidato/pernyataan yang sangat singkat, padat, dan berisi, tetapi kenapa ya saya sering mendapati banyak orang kita , terutama birokrat, yang senang sekali membuka suatu acara dengan kata-kata bullshit yang sangat panjang dan membosankan?
- Bunyi Undang-Undang Dasar 1945 itu ternyata sangat indah, sarat makna, dan cukup lugas penyampaiannya. Tapi saya juga merasakan suatu ironi, kita masih jauh dari cita-cita tersebut, mencerdaskan kehidupan bangsa, keadilan sosial, ketertiban, keamanan, dll. Padahal kita sudah “merdeka” selama 63 tahun…… Well mate, we have to do something valuable for our beloved country.
Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country. -John F. Kennedy-
Merdeka!!
ps. Untuk sang guide yang besok berulang tahun, met ultah ya, semoga makin diberkati dan dewasa dalam Iman dan perbuatan. Peace!